Bayang-bayang telah meregang Menahan sesak sebelum malam Ah, boleh aku bertanya? Kala kulihat kebekuan luka Masihkah kita mencicil duka? Sungai Barito yang bisu Yang menjingga serupa masa lalu Sesal ditelan kenangan seperti jejak-jejak ilung Aku menoreh harap, meski hati berwujud sendu Sesal angin yang kuuntaikan dengan tasbih Riak sungai merangkul jiwaku yang kecil Kemana kau pergi? Aku menggigil... [more]

25 Nov

Malam tadi aku terdampar, dalam kabut yang berembun Berharap nasibmu masih bersama daun akasia Ry, aku tak sabar dan tak sadar Sementara makna napas telah lama hilang “Cerita ini belum usai,” perih mengerti Ry, kau menutup wajah Seolah rimba bernyanyi, rindu Kemana lagi kita mengaji Rangkaian bahasa atap kamar bocor Atau lantunan syair jalan yang berpasir Ry, kini aku paham Bahwa sekarang... [more]

18 Aug

Aku telah kehabisan hati, demi membenihkan kerinduan yang purba. Namun belum sempat kusematkan angin-angin gurun atau metafora pedihku selama ini, sebening air mata yang mengkristal, secandu berbaring sore dalam alunan kicau camar. Senyummu itulah yang memupuk sedihku, menyelimuti wajahku yang tak bisa kembali cerah. [more]  [more]

31 Jul

Aku tak pernah berdoa Kau kirimkan butiran ebun dari subuhmu Sebab lukisan wujudmu belum juga punah Aku tak pernah berdoa Kau kembali mengantar mimpi Meski, kau telah hilang sebelum malam Aku tak pernah berdoa Namaku kau sebut bersama hujan Setelah hari-hariku diisi badai Biar… Biar sepi menjerat tidurku Siapa tahu, kau yang berdoa untukku  [more]

17 Jul

Kau hilang dalam rembulan Semakin manja memahat malamku Melemparku dalam kelam yang sepi Sebagai tanda bahwa laguku adalah nyanyian hujan Aku hanya ingin kata itu kau simpan Biar kata itu sendiri yang memaknainya Memaknai rintik-rintik yang mengisi senja kita  [more]

7 Jul