Tahu Gunung Putra Bulu? Oke, akan kuberitahu. Letaknya dekat dengan Riam Kanan.
Tanpa pernah diduga sebelumnya, kemarin (Kamis) aku dan teman-teman 3 Aliyah kemping ke desa Batu Kambing (beberapa kilo meter dari bendungan Riam Kanan). Baca lanjutannya…
Lagi-lagi, perjuangan kerasku berbuah manis. Hari Jum’at yang lalu kami, anak-anak FPP berhasil mengadakan seminar penulisan cerpen di pesantrenku dengan sukses. Semua ini sebenarnya rencanaku. Mulanya aku meminta Mas Harie sebagai pembicara, namun karena beliau ternyata lagi di Jawa dan baru plang bulan Januari depan, maka beliau merekomendasikan teman beliau Hajriansyah.
Aku pun lalu menghubungi Hajriansyah, dan beliau siap. Baca lanjutannya…

“Percayalah Har, dengan uang milyaran itu kamu bisa mewujudkan mimpimu yang mana saja!”
Aku hanya diam. Bukan karena mempertimbangkan, apalagi tergiur, tapi aku sudah bosan. Sejak siang tadi Surya terus membual soal bisnis aneh yang kalau tak salah namanya BBS. Sejak siang tadi pula aku muak melihat wajahnya.
“Rumahmu ini, sekejap akan berubah seperti hotel Har! Hotel!!!”
Malam kian menanjak, merangkul dingin yang menembus tulang hingga ke sum-sum. Tidak terhitung lagi berapa kali sudah aku menguap. Kembali kulirik jam dinding berlatar putih dan berbingkai hitam yang detak jarumnya kini terdengar lebih nyaring. Sudah pukul sebelas lewat. Sementara Surya, dia masih saja semangat membujukku agar mau berbisnis dengannya.
“Jadi bagaimana Har?” tanya Surya yang kuharap merupakan akhir dari penjelasan panjangnya. Penjelasan panjang lebar yang tak kumengerti sama sekali.
“Baiklah Sur, aku akan mempertimbangkannya nanti dengan istriku, tapi setelah kau mengganti Honda Supramu itu dengan Honda Jazz!”
***** Baca lanjutannya…
Malam Jum’at
Aku dan Aya Acara Inti tiba di kota Palangkaraya. Tidak banyak yang bisa dinikmati saat malam tersebut,karena lampu jalan di kota ini mati. Gelap. Kami menginap di rumah anak buah kami yang bernama M. Noor, sebuah rumah yang sangat mewah.
Rumah itu terletak dekat Mesjid raya Nurul Islam, yang kata M. Noor merupakan Mesjid nomor satu di Palangka.
Hari Jum’at
Aku keliling-keliling kota ini. Berbeda dengan Banjarmasin,kota cantik ini tampak lebih sepi. Sampai sekarang, belum ada yang membuatku tertarik, kecuali sebuah warnet yang kumanfaatkan untuk menumpahkan rindu dengan blogku ini, karena sudah lama sekali rasanya tidak bersua.
Hari Sabtu
Aku dan Aya Acara Inti ke rumah acilnya Aya. Rencananya, jam 10 nanti kami akan pulang menggunakan bus. Aku menolak tawaran Ayah M.Noor untuk pulang menggunakan taksi Kijang bersama anaknya.
Tanpa pernah menduga sebelumnya, hari ini (mulai kemarin magrib sebenarnya) aku bisa berada di Kota Palangkaraya. Aku pun masih tak percaya. Semuanya bermula dari pembicaraan ringanku dengan wakilku, Si Aya Acara Inti (aku ketua asrama, dan dia wakilnya). Baca lanjutannya…